#Gelas Bening Part 7. Gerimis Part 2

on

Di rintikan hujan, sesaat aku merenung akan keberanian dan tekad besarku meninggalkan tempat nyamanku untuk sebuah tempat baru yang aku sendiri belum tahu apakah baik, buruk, atau sama dengan Kota Solo.

“Ah, semua akan baik-baik saja.”, ucapku.

Teringat kurang lebih setahun yang lalu, langkahku bersama seseorang di sebuah gedung tua di Ibukota. Kami membuka payung dan mengenakannya bersama kala sedang asyik memandangi indahnya sisi kota besar dengan hiruk pikuknya kemacetan. Yah, aku bersamanya, berdua, ditemani hujan.

Gerimis hanya sebagian kisah

dari panjangnya perjalanan kita

Gerimis hanya sebuah waktu

saat aku merasa aman berada bersamamu

Gerimis bagian dari hujan

bagian dari cerita panjang

lika-liku aku dan kamu bertemu

pahit manis kita ingin bersatu

Aku selalu merindukan hujan

Entah, apa sekarang masih terkenang?

 

Hujan selalu punya kisah menarik, hujan selalu menjadi momen kenangan, baik paling indah maupun menyedihkan, hujan seolah seperti tetesan air mataku, yang jatuh kala sedih maupun bahagia. Hujan, selalu aku rindu.

Gerimis kala itu menjadi momen bahagiaku dan harapan terbesarku dalam meyakini keberadaanmu. Aku hanya bisa tersenyum kecut sekarang, mengingat betapa aku ingin tapi aku tak mampu. Aku pun menyalahkan diri, menjadi pengecut dari problem yang ada dan memilih pergi meninggalkan. Tapi bukannya itu juga pintamu, untuk berjuang masing-masing mencapai target hidup mimpi yang diingini. Sampai pada suatu saat, kita berjaya dan bertemu kembali. Aku rasa , aku tak mampu, aku tak mampu menunggumu lagi, rintikan gerimis. Aku tak akan mampu memprediksi, kapan kau bisa kembali lagi?

Jadi aku memilih pergi, untuk kebahagiaanmu. Aku memilih mendoakanmu dari kejauhan, berharap kau akan temukan kebahagian kebahagian lain yang lebih baik dari diriku. Semoga akupun begitu. Karena saat itu logika ku belum bisa menerima sebegitunya kau berpikir soal dunia, sebegitunya kau takut aku susah. Bukankah rezeki Allah yang beri, asal kita mau mencari. Cara berpikirmu dulu, seolah ragu aku mampu hidup sederhana. Kini aku sadar, sudah jalan dan takdir ada kisah kita, sudah takdir pula dengan kisahku sekarang. Aku sudah menemukan hujan baru lebih indah dan lebih memahami tangisanku. Gerimisku kali ini jadi kisah baru, gerimisku adalah momen indah baginya. Aku menyukai takdir yang ada.

Terimakasih gerimis.

Bagian hujan yang menemukanku. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s