#Gelas Bening Part 5. Terrified

Sosok sekelibat lewat dihadapanku sungguh sangat tak asing. Dan aku yakin ia teman SMA ku.

“Hei, uhm. Lagi disini?”, Sapaku. Wajahku tampak senang dan bahagia, setelah sekian lama di Jakarta, baru kali ini kubisa bertemu dengannya.

“Iya. Eh Ai??”, Balasnya.

Kami berpelukan sewajarnya sesama wanita. Namun, tak lama kita bisa berbincang. Yaa, kesibukan yang memisahkan kita. Aku melihat wajahnya tampak lelah, letih, dan sepertinya sedang banyak pikiran. Awalnya kupikir ingin mengajaknya kopi darat 30 menit atau sejam atau berjam-berjam. Yah, gagal. Karena ia dengan cepat menangkap maksut ajakanku sebelum kuberkata.

“Gw duluan ya, capek banget nih. Maaf ya.”, Ucapnya dengan jelas.

Aku pun membolehkannya pulang namun sedikit sewot kubilang sombong padanya. Yah, apa hakku menge-judge orang sedemikian. Mungkin benar ia sedang sibuk dan perlu istirahat. Apa pentingnya aku, seorang teman jauh dari Solo yang tiba-tiba ada di Jakarta ini. Aah sudahlah tak perlu baper doakan saja kebaikan dan kesuksesan untuknya.

Kurang lebih sebulan yang lalu sempat ku merepotinya dan meminta bantuannya untuk menemaniku menemui seseorang sekaligus menumpang di kosan. Namun lagi lagi, kita belum jodoh, nyatanya itu belum terealisasi. Yah, dilain kesempatan saja. Kalaupun kamu membutuhkanku, tak usahlah senggan minta bantuan padaku ya, sahabat, temanku.

Tak terasa 3 jam berlalu di Margocity bersama NK dan ADL. Bahagia rasanya bisa bertemu walau hanya sekedar mengobrol. Tapi sungguh kedatangaku dari Tangerang ke Depok bertemu kalian worthed kok.

Terimakasih ADL, menganggapku sebagai teman yang dipercaya, walau sikapku kadang menyebalkan terlebih sering sekali lama membalas pesan-pesan darimu. Aku menyayanginya. Terimakasih banyak mbak NK, very kind my girl-mate, kakak sekaligus rekan kerja yang paling mengerti sifat kekanak-kanakanku, janganlah pernah lelah mengurusku. Aku hanyalah kucing yang kelaparan.

Setelah selesai di Depok, aku dan NK melakukan perjalanan malam menembus angin dan suara keramaian kota menuju kediamanku di Tangerang. Kenangan kisah selama perjalanan ini cukup kami yang mengenang.

Keesokan harinya kumerasa perlu mengajak ia keluar menikmati gemerlap lampu Kotaku, atau sekedar cuci mata di etalase-etalase mall dekat kosan. Kata orang-orang, tempat tinggal baruku terhitung masuk di lingkungan elite. Hmph, bagiku sama saja tak ada bedanya dengan sebelumnya. Hanya saja, sekarang masuk ke perumahan blok, sedangkan yang sebelumnya di perkampungan. Yah, aku akhirnya memutuskan pindah Kost dari Kontrakan kamar no.8 ke salah satu perumahan elite di daerah Karawaci. Untungnya, harga perbulan yang harus ditanggung masih sama dengan kontrakan sebelumnya. Setidaknya, tempat disini cukup banyak pilihan makanannya dibanding tempat sebelumnya.

Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, dengan segera kami bergegas berangkat menuju mall. Kami memutuskan berjalan kaki, karena perjalanan dari kos menuju mall hanya berjarak kurang lebih 1/2 km. Tak jauh, tapi juga tak begitu dekat, dikarenakan jalanan begitu sangat ramai. Pikirku tak apalah, sekali kali menerjang malam dengan kedua kaki ini, menyentuh dinginnya angin dalam gemerlap cahaya malam.

Ditengah perjalanan tetiba langkahku terhenti. Kurasakan kehilangan hembusan napas didekat tengkukku. Temanku, dimana ia? Kutolehkan wajah kearah kanan, kulihat ia hanya terdiam melihat kebawah jembatan. Saat itu kami berada diatas jembatan penyebrangan tol Jakarta-Merak.

“Astaghfirullah…”, teriakku keras, reflekku ketika melihat sinar putih dibawah jembatan yang berada di sekeliling pepohonan.

“Mbak ayo jalan, udah ga usah dilihat. Ayo jalan aku ceritakan nanti.”, Teriakku sambil menarik tanganya untuk segera bergerak dari tempat itu.

Entahlah, apa yang ada dipikiran orang itu~orang yang kulihat dibawah jembatan~. Ketakukanku dimulai. Dan aku semakin merasa tak aman dan tak nyaman. Teringat beberapa waktu lalu, aku sempat tersesat dibawah jembatan tol. Ya, tersesat ditempat dekat pepohonan itu. Ah sudahlah, memori itu makin memuakkan dan menyiksaku.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhh, aaaaaaaaaaaaaaaaaaawww….”, terdengar teriakan wanita, sangat keras didepan langkah kami.

“Piiiiimmmm…..”, Bel mobil sekilas.

“Apalagi? Apalagi ini? Aapaaaa? Apaaaaaaaaa”, Ucapku dalam hati.

Kuhentikan langkah kita berdua sambil saling menggenggam erat tangan masing-masing. Tak kusangka, pertunjukkan luar biasa didepan mata. Sebuah mobil avanza menabrak seorang wanita di jalan tikungan yang baru saja jatuh dari motor dengan posisi berbaring. Mobil melindas kedua paha wanita itu, kemudian mundur kembali melintasi paha yang sama. Tampak seorang wanita berpakaian kuning berdiri disamping mobil, teriakannya telah mengagetkan para pengendara. Yaa teriakannya, karena melihat temannya dilindas dengan ringannya oleh avanza hitam tepat persis disampingnya.

Aku tak berdaya. Aku lemas. Aku ingin membantu. Tapi aku takut. Aku bukan orang asli sini. Aku bukan… aku tidak.. aku, aku tidak bisa. Aku, aku terlalu pengecut, bahkan aku melarang temanku untuk membantu. Aku tahan tanganya supaya tak lepas dari genggamanku.

Ketakutan terulang kedua kalinya. Diwaktu yang sama. Ditempat yang sama. Disini. Doaku, semoga ia tak apa-apa, dan tak ada yang retak dari kakinya. Maafkan aku hanya makhluk egois di Kota yang keras ini.

Aku takut. Bahkan aku tak bisa percaya dengan mudah dengan sekitarku. Kota keras ini membuatku jadi egois, apakah aku anti sosial?

Pertama, orang asing dengan enaknya menjambret tasku tanpa melihat kondisiku dan siapa yang ia ambil barangnya ini. Aku gadis perantau sendiri tanpa saudara.

Kedua, aku dianggap kuno, gadis desa, tak laku, dan tak mengikuti perkembangan zaman karena aku tak berpacaran.

Ketiga, beberapa laki-laki yang kutemui disini dengan mudahnya merayu, menggoda, tak menghiraukan batasan, dan datang hanya untuk dapatkan perhatian perempuan kadang dengan enaknya mengajak bermain hingga larut malam.

Keempat, saat privasi sudah take ada batasnya lagi. Saat aib sudah diumbar-diumbar dan sebagai bahan bercandaan. Banyak orang dengan mudahnya masuk dan keluar. Datang dan pergi, namun kurang menghargai perasaan. Banyak, banyak kutemui ini. Mereka egois, mereka cuek, mereka peduli hanya untuk dapat bahan obrolan, mereka peka hanya untuk cari keuntungan pribadi.

Kelima, pertemuan dengan teman lamaku tak begitu penting baginya. Ia lebih memilih tak memperdulikanku. Bisa jadi ini karma karena aku juga sering tidak memperdulikan pertemuan penting bersama sahabatku dulu. Maafkan aku, teman.

Keenam, ramainya ibukota membuatku lelah, membuat muak, membuat aku jadi anak jalanan yang pulang bisa hingga larut malam.

Ketujuh, beberapa kejadian yang kutemui dan kulihat secara live cukup membuatku merinding dan merasa takut tinggal di Kota ini sendiri. Kecelakaan, mistis, gangguan jiwa, psiko, individualise, parasit, janji palsu, dsb. Hal ini juga yang membuatku menjadi makhluk egois di Kota ini.

Terrified. Perasaan ini yang mulai timbul akhir-akhir ini. Aku ingin menghilangkannya. Aku ingin menganggap kota ini baik, aku akan mencoba memandang dari sisi baik dan positif thinking disetiap waktu. Maafkan aku ibukota, kubelum bisa beradaptasi baik denganmu. Aku masih membanding-bandingkanmu dengan Kota asalku. Kucoba berubah, dan tak akan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s