#Gelas Bening Part 4. Pre-Terrified

Setelah sekian lama tidak me-memorized kejadian yang kualami dalam kisahku ini. Kali ini aku benar benar mulai merasa ketakutan dengan lingkungan sekitar dan memori ini cukup mengakar dalam ngiangan.

kegelapan

“Ada terang ada gelap, ada putih ada hitam, ada matahari ada bulan, ada baik ada buruk, ada laki-laki ada perempuan, ada kaya ada miskin, ada atas ada bawah, ada sukses ada gagal, ada kamu ada aku #eh salah!”, kalimat puitis yang seolah keluar dari lidahku.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sering kebawa perasaan disetiap waktu. Mungkin karena kepengaruh dengan lingkungan saja. Kosakata pembanding yang kuucapkan tersirat makna bahwa hidup akan seimbang karena adanya dua hal yang saling berpasangan dan bertolak-belakang. Dikala kita memiliki kelebihan pastilah diikuti dengan kekurangan yang ada. Dikala kita menemukan kemudahan tentulah kita tak pernah luput dalam kesulitan. Segala kebaikan dan keburukan yang bertolak-belakang itu ada untuk saling melengkapi.

Seperti yang kualami saat ini, berada dikondisi membahagiakan namun tak luput pula dari hal yang menakutkan yang membuatku sedih. Aku bersyukur Allah kabulkan harapanku dan kedua orangtuaku. Kami bisa berencana, kami punya banyak keinginan. Namun, kami percaya rencana-Nya lah yang paling terindah ~apa yang kami doakan dan dicitakan diijabah oleh-Nya, penulis lulus dalam sebuah tes~. Dengan status baru ini membuatku mantap meraih cita yang sempat kutuliskan dalam Paper of My Dreams.

“Alhamdulillahirrabbil ‘alamiin.”, ucapku dalam sujud.

Iya, arti dalam rasa syukurku itu dibarengi dengan rasa sedihku untuk lagi meninggalkan Solo dalam 1 tahunan kedepan ~melanjutkan lagi kisah klasik merantau di Ibukota dan sekitarnya~. Tak apa pikirku dalam hati, toh inilah yang aku inginkan dan yang kuharapkan saat ini. Orangtua mendukung penuh langkah yang kupilih, dan sebagai pilihan yang kuambil.

Seseorang menyemangati sembari bertanya apa rencanaku selanjutnya, dan aku hanya bisa tersenyum dan bertanya balik padanya.

“Kalau menurutmu baiknya gimana?.. Mending begini atau begitu?”, tanyaku.

“Apapun keputusanmu nanti yang penting komitmen ya, InsyaAllah pasti bisa..”,

Aah bodohnya aku, kenapa pula kubertanya padanya. Pertanyaan macam apa ini, membuat seolah-olah apa yang kupilih harus mendapat persetujuan dulu darinya. Padahal aku pasti juga sudah memikirkan apa yang akan kupilih selanjutnya. Walaupun begitu, apa yang selalu ia sarankan padaku memang benar adanya dan nyatanya ia selalu men-support apapun yang aku pilih, apapun yang kuinginkan, dan apapun yang kulakukan asal itu baik dimata Allah.

Kuucapkan terimakasih ya, untuk nasihat kecil yang tak pernah memaksakan kehendakmu pada diri yang keras kepala ini. Terimakasih untuk sikap saling cuek yang tidak pernah memerdulikan aktivitas masing-masing. Terimakasih banyak telah menyebutku dalam hati yang tak bersuara. Maafkan aku membuatmu susah akan sikap dan kelakuanku sebagai wanita. Maafkan aku membuatmu mudah memikirkanku. Maafkan aku yang juga sama begitu, sekelibat mengingatmu tapi tak berani melihat dan menyapamu. Semoga Allah mengampuniku, semoga imanmu tak mudah goyah olehku.

Setelah hari itu, NK ~mantan teman seangkatan, partner crazy, partner hunting foto, ustadzah, sekaligus kakak bagiku~ datang untuk menemuiku bersama salah seorang teman lainnya bernama ADL ~teman yang dipertemukan dalam event 1000 hpk, partner MC dan partner diskusi yang kritis abis~. Aku sering memanggilnya Mba, karena ia memang lebih dewasa dariku. Kami meng-agenda-kan pertemuan hari Sabtu di Margo City Depok. Ia meluncur langsung dari Serang tiba di Stasiun Pondok Cina (Pocin). Aku meluncur dari Rumah saudara di Srengseng Sawah, Jagakarsa menuju ke Stasiun Pocin untuk menjemputnya lewat Jalur Balairung pukul 12.00 WIB. Sedangkan ADL datang dari kosannya di Depok menuju MargoCity Mall pada pukul 18.30 WIB.

Pagi harinya sebelum bertemu mereka aku bertemu terlebih dahulu dengan saudara sepupuku. Kami sempatkan makan dan mengobrol sejenak. Kemudian tepat pukul 12.30 aku menjemput NK di Pocin bermodalkan jalan kaki. Beberapa waktu ini aku sering sekali memakirkan motorku entah dimana namun aku berjalan kaki untuk berkeliling di sekitar. Sama halnya dengan hari ini aku memarkirkan motor di Balairung tetapi ke stasiun Pocin dan Margocity Mall kubela-belain jalan kaki. Aku begini karena, ketakutanku dengan keramaian jalan, ketakutanku salah lewat jalan, ketakutanku bayar parkir puluhan ribu, ataupun ketakutanku banyak yang isengin plat AD. Antara takut semi males dan berusaha ngirit juga sih ~if you know what i mean~. Ya sudahlah, akhirnya kumemilih jalan kaki.

Waktu telah menunjukkan pukul 18.00, sudah masuk waktunya sholat. Aku dan NK tidak ingin terlambat sholat maka dengan segera kami menuju mushola terdekat. Ternyata Mushola di Margo Mall amatlah penuh dan antrian sholat sudah layaknya seperti antrian sembako. Dengan pertimbangan sejenak, akhirnya kami memutuskan untuk sholat di Masjid atau tempat lain. Dan akhirnya kami menemukan Masjid di Depok Town Square (Detos).

Sekelibat tampak rambut panjang sepanjang bahu mengingatkanku pada seseorang. Rasanya sungguh familiar dengan postur tubuh dan style pakaian yang ia kenakan. Siapakah ia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s