#Gelas Bening Part.3 Kamar Nomor 8

“Sreett..”

Suara pintu kamar mengawali hariku. Segar rasanya menghirup udara pagi di pukul 05.00 ini. Jarang sekali rasanya membuka pintu di pagi buta. Kalau bukan karena sulit tidur dan bosan di kamar petak ini, pastilah ku masih betah berdiam lama didalam.

Niatku ingin lari-lari kecil pagi, toh ini juga hari libur. Yaa sabtu minggu adalah hari liburku, tapi tak menutup kemungkinan mengambil hari libur dihari lain dan menggantinya pada hari sabtu minggu. Kurasa pekerjaan ini sungguh sangat fleksibel, aku senang, akupun tak merasa kelelahan. Hanya saja aku merindukan partus ~ means bersalin/ menolong persalinan~ , aku merindukan ibu, aku merindukan bapak, aku kangen bobok dipeluk ibu, aku kangen masakan ibu, aku kangen nasihat bapak. Yah, tepatnya AKU RINDU SOLO dan bekerja di klinik ~yang sebelumnya sempat ku terpikir untuk bekerja di salah satu BPM/BPS/Klinik swasta di Solo~ *Bidan Praktik Mandiri/Bidan Praktik Swasta

Tapi berhasil dengan mudah niat joggingku luntur, hanya karena malu dengan tetangga sebelah.

Yah, aku tinggal di Kontrakan. Kontrakan! Bukan Kost. Tetanggaku ada yang sudah berkeluarga, ada yang masih membujang, ada yang sedang bermasalah… yah benar macam-macam.

Ku ulas beberapa orang tetanggaku ya. Kamar nomor 6 dihuni oleh Tante Noni ~*baca part 1 cerpenku ya~, kamar nomor 7 dihuni oleh 2 orang laki-laki bujang, nomor 9 dihuni oleh keluarga berisi anak, ibu, dan budhe (bibi), kamar nomor 9 diisi oleh seorang laki-laki beristri namun istrinya tinggal di Jawa ~jawa mana?, sayapun tak mengetahui lokasinya~, kamar nomor 10 dihuni oleh 2 laki-laki berstatus mahasiswa. Dan aku tinggal di kamar nomor 8.

Kehidupan disini tak seindah yang dibayangkan, tapi juga tak seburuk yang ku kira. Tetanggaku ramah dan baik padaku, ya walaupun kadang sekali dua kali aku cukup dibuat aneh dengan beberapa sikap dari mereka.

Aktivitasku setiap hari kumulai dari sini. Wajarnya perempuan yang suka memasak, aku juga sering memasak makanan untuk sarapan, makan siang, atau makan malamku. Hanya saja aku tidak rutin melakukannya.

“drrrttt, drrrttt..”, suara hape bergetar tanda ada panggilan atau pesan masuk.

Ternyata telpon dari kedua orangtuaku. Setidaknya suara mereka memecah kesepian pagi siang hingga malamku di Kota perantauan ini. Sungguh, kutak ingin melihat engkau bersedih, pak buk. Kalaupun engkau menangis, yang ingin kulihat adalah airmata haru dan kebahagiaan.

Suara ibuk dan bapak beserta untaian kata ini, senantiasa menjadi penguat dan pengingatku dikala kusepi dan merasa sendiri. Akupun yakin, Allah mendengar segala ucap dan pintaku. Allah telah memberikan rahmat dan kemudahan bagi hari-hariku. Tiada niat lain, selain meniatkannya untuk ibadah. Melibatkan Allah dalam setiap urusan dan meniru tauladan Rasul-lah yang akan meringankan jalanku, sehingga membuat semuanya terasa manis dan indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s