#GelasBening-Part I. Ketukan Pintu

January, 21 2017

gelasbening

doc. http://tyaz-utami.blogspot.co.id/

Malam ini seperti malam-malam biasanya, ku hanya sendiri di ruangan petak ukuran 5×3 meter, membuka buku dan membaca semampuku. Entah mengapa, rasanya aku tidak benar-benar menyatu dengan teks bacaan yg kupegang. Membaca hanya isapan jempol semata, nyatanya ku tetap bertahan di halaman 20 tanpa sedikitpun tergerak ke sub bab selanjutnya. Buku karya Cyssco dan Rasyid ini jadi temanku selama aku berada disini.

Adzan isya’ mengingatkanku waktu telah pukul 19.30. Yah, sholat disini mulainya terasa lebih lambat 20-30 menit dibandingkan dengan Kotaku, Solo. Mungkin karena musimnya sehingga jam waktu sholat mundur, jadi bukan hanya karena lokasinya di Jakarta maupun Tangerang. Aku bergegas mengambil wudhu dan sholat isya’ segera. Kusempatkan tilawah sejenak 1-2 halaman Qur’an. Sepintas teringat akan permintaanku kepada seseorang untuk menghapalkan Surat Ar-Rahman. Rasanya tak adil meminta orang lain menghapalkan, namun aku hapal saja belum. Kusempatkan murojaah 1 hingga 32 ayat pertama. Yah, masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya sudah mau berusaha.

Ku pegang lagi bukuku namun gadget~yg baru kubeli sebulan yg lalu, disaat HP lama hilang dicuri maling~ mengalihkanku utk membuka pesan dan aplikasi yang ada di dalamnya. Foto ibu, kupandangi dengan seksama di layar home menjadi wallpaper untuk pengobat rindu. Satu pesan yang kuingat dari ibu, “Jaga kesehatan dan banyakin minum air putih nak, itu lebih baik”, ucapnya.

Hampir setiap malam hari sebelum tidur kusempatkan minum minimal 1 gelas air putih. Air putih maupun air mineral adalah minuman idolaku disamping ice cream. Bagiku es krim bukan minuman melainkan makanan. Aku dan ibu sama-sama menyukai minuman cukup air putih saja. Kami jarang minum teh, sirup, apalagi kopi. Kalau bukan karena jajan di warung atau restoran kami hampir tidak pernah minum yang ane-aneh. Jus dan susu adalah selera, disaat ada pastilah kami bersedia dan mau meminumnya, asalkan saja tidak terlalu manis. Selama ini di Tangerang gelas beninglah yang menemaniku meneguk air putih. Aku tak punya banyak gelas dikediamanku, hanya ada 2 dengan ukuran sedang yang mampu menampung kurang lebih 330 ml air di dalamnya. Satu gelas kubeli di pasar Minggu saat pertama kali ku memutuskan untuk menerima pekerjaan di Tangerang. Satu gelas yang lainnnya kubawa dari rumah Solo~gelasnya didapat dari hadiah souvenir pernikahan~ yang sudah lama terpajang rapi di almari kaca.

“Tok Tok Tok, Assalamu’alaykum..” ucap seseorang di luar pintu. Kubuka dan kujawab salam indahnya. Seorang wanita ibu ibu muda memintaku untuk menensi tekanan darahnya. Ia mengetahui aku seorang bidan dan punya alat tensi dari Tante Noni~penjual kelontong sekaligus tetangga kontrakanku yg unik dan baik~.

Sudah 3 bulan berjalan aku mengenal Tante Noni~orang-orang biasanya memanggilnya Noni~. Ia sosok yang mengakui dirinya sebagai seseorang perempuan, sosoknya dibalut busana wanita, memiliki gaya lembut keibuan, serta dandanan cantik rupawan dibalik kodrat laki-laki yg Tuhan berikan. Aku tak menyalahkan. Semua orang berhak atas dirinya masing-masing, aku hanya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya. Noni selalu ramah padaku, senang mengajakku bercerita dan berbagi pengalaman. Ia layaknya ibu yang peduli dengan anaknya yg sedang merantau sepertiku ini. Ia membukakan mataku untuk saling berbagi dan memandang tidak hanya dari satu sisi. Kuucapkan, terimakasih tante.

Ibu muda yang meminta ditensi menyampaikan keluhannya padaku. Sebenarnya sebelum ia kemari, 2 hari yg lalu ia baru saja periksa ke puskesmas dekat rumah~dekat kontrakanku juga, puskesmas Setu~. Ia sudah tau hasil tensinya 140/90 mmHg. Ia hanya sedang kecapaian~ia menyebutkan masuk angin~ dan perlu istirahat karena tensinya cenderung tinggi. Ia dapat obat sakit kepala dari puskesmas, jika suatu saat ia merasakan pusing berat. Ia dapat dengan segera meminumnya. Saat aku tensi, alhamdulillah tensinya sudah turun menjadi 130/80 mmHg. Tentunya memang benar segitu sesuai dengan sistol dan diastol yang kudengar dari denyut nadinya. Ku berikan informasi atau konseling semampuku dan sepemahamanku. Ia senang mendengarnya. Ia senang cerita dan keluhan yang disampaikan padaku, kuperhatikan dengan baik. Tak banyak intervensi yang kulakukan, hanya saja aku menyediakan telingaku untuk mendengarkan.

Tak beberapa lama kemudian, ibu yg lain datang dan meminta untuk ditensi pula. Senangnya aku mengetahui tensi yg kubawa bermanfaat juga untuk orang lain. Begitu seterusnya hingga 4 ibu datang ke kontrakan kecilku. Satu hal yang teringat dalam benakku, seorang ibu memintaku buka praktik bidan di kampung ini. Alasannya standar hanya karena belum ada bidan di wilayah ini. Yah, aku pikir cukup dengan sudah ada puskesmas dan bidan desa di desa seberang. Lagipula ini kota, Jadi akan dengan mudah menemui Rumah Sakit dari kelas C hingga A, dari standar daerah hingga international, pikirku, jd untuk apa aku disini.

Bukan mengenai dimana tempatnya dan siapa lingkungan sekitarnya, tetapi tentang keinginan diri ini sendiri, jadi apa dan bagaimana aku nanti. Saat ini biarlah let it flow, seperti air di sungai dan pada akhirnya akan menemukan muaranya.

Ketukan pintu yang menguatkan tekadku meraih mimpi dan citaku. Masih ada mimpi yg ingin kucapai. Setidaknya, dari mimpi-mimpi itulah aku bisa menjalani kehidupan dengan semangat, terus berjuang, menebar kebahagiaan, dan bermanfaat bagi sekitar.

#GelasBening #GB #GBStory #mystory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s