Kumpulan Mutiara II

Smua tak sama..tak pernah sama…#lirik lagu padi

Karena Ukuran Kita Tak Sama

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.

Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi, tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,

_Salim A. Fillah_

… KETIDAKTAHUAN KITA

KEMAHAKUASAAN ALLAH…

Nabi NUH belum tahu banjir akan datng ketika Ia membuat Kapal dan ditertawai kaumnya..

Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia Domba ketika pisau nyaris  memenggal Buah hatinya..

Nabi MUSA belum tahu Laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya..

Yang Mereka tahu adalah bahwa mereka harus Patuh pada Perintah Allah dan tanpa berhenti Berharap yang Terbaik..

Ternyata, dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH telah menyiapkan kejutan.

Seringkali Allah Berkehendak di detik2 terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba2Nya..

Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban doa…

Karena kadang Allah mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka..

Allah memberikan apa yang kita Butuhkan,

bukan apa yang kita Inginkan… !!!

Lakukan bagianmu saja, dan Allah akan mengerjakan bagianNya..

Tetaplah Percaya,

Tetaplah Berdoa,

Tetaplah Setia,

Tetaplah Meraih RidhoNya,, Aamiin

 Tetap semangat meski dalam kesederhanaan..

Mari terus berbagi Kebaikan

# Teman Yang Suka Menasehati Dalam Kebaikan

Saudaraku seiman, teman yang baik tentu tidak senang jika kawannya sendiri terjatuh dalam perbuatan dosa. Jika Anda memiliki teman, tetapi tidak pernah menegur dan tidak memperdulikan diri Anda ketika melakukan kesalahan, maka perlu dipertanyakan landasan persahabatan yang mengikat antara mereka berdua. Ia bukan seorang teman.

Saudaraku seiman, Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran merupakan Salah satu ciri orang yang tidak akan merugi sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla pada surat al-‘Ashr, “mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”.

dan Taukah anda saudaraku, ciri teman yang baik yaitu teman yang peduli kepada anda, sebagaimana dia mempedulikan dirinya sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri [ HR. al-Bukhâri no. 13, Muslim no. 40 ]

Mudah2an kami (Tausiyah agama) bisa menjadi teman dan sahabat anda yang suka menasehati dalam kebaikan.

——————————-

http://www.TausiyahAgama.tk | via, Almanhaj.or.id | WA: 085725643723 | BBM: 7F94C82E

“Setiap kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu.

Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak kamu sangka.

Dan saat kita hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberi kita rizki berupa orang lain yang akan membahagiakan kita.

Maka berusahalah untuk memberi bukan menerima, karena setiap kali engkau memberi, maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun.

(Syaikh Shalih Awadh Al Mughamisi – Imam Masjid Quba)

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada yang menjadi awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

– Taufik Ismail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s